Translate

Selasa, 01 Januari 2019

maka, tersenyumlah

boleh jadi kamu mendamba warna warni,tapi terkadang, warna tak melulu cerha, ada kalanya kamu bertemu abu, ada juga kamu bertemu biru, dan boleh ajdi akhirmu adalah hitam.

sabar, sekali lagi sabar.
bukan kah kamu sudah terbiasa akan masa sulit?
bukan kah kamu selalu terbiasa dengan teriak bentak, ketidakpedulian dan amarah?

kenapa lagi lagi lemah?
kenapa kamu selalu meneteskan hal hal yg bahkan tak perlu kamu buat iya menetes.

selalu menyedihkan melihat masa masa sedih, selalu menyakitkan merasakan masa masa pahit.
kamu hanya belum membiasakan diri, atau mungkin kamu terlalu terbiasa atas hal hal tak layak yang setiap harinya kamu terima.


2018, it’s me

2018, tahun yang bener bener Roller coaster banget HAHAHAH. mengawali 2018 dengan mata yang masih sembab karena harus mengubur perjuangan selama 4 bulan. yang awalnya difikir ini adalah titik perjuangan setelah beberapa kali coba, dan ternyata aku dipatahin di akhir. sedih? banget. sampe malu dan nutup diri banget sama orang lain.

Dan kemudian, lanjut lagi dengan hal hal mengejutkan yang tiba tiba terlintas difikiran. Ibaratnya mobil, udah takut banget buat banting setir lagi.
Dan....
i did it. ngelakuin hal paling konyol di muka bumi ini. HAHAHAH ga kebayang seberapa nekatnya dulu cabut dari kuliah tanpa pertimbangan matang. terus tiba tiba udah terlempar di antar berantah ga tau mau ngapain hahaha.

lucu banget kalo diinget inget lagi, betapa hidupku selalu melakukan pertimbangan ga ada otak. ga pernah mikir resiko , “ yang penting dijalanin, hidup jangan di buat susah”.😂😂😂😂😂 goblok bgt ga sih fikiran itu.

diterusin sampe nangis bahagia haru sedih semua dilewatin sampe ke titik ini. sampe sekarangpun, aku masih di titik paling dasar.  lagi nyetir ke tujuan yang baru, dan lagi nikmatin pemandangan kiri kanan. batu? pasti bakal ada. angin badai? siapa tahu.
tapi bersyukurnya aku dengan sifat ceroboh dan nekatku ini, karena kalo ga gitu, aku ga bakal berani buat bergerak maju dengan kemampuan yang amat cetek ini.

Umur hampir kepala dua. 2018 bakal segera berakhir. Terimakasih tuhan untuk tahun yang menyenangkan sekaligus titik terendah yang dirasain selama hidup.


2019, aku siap☺️

Riview buku Andrea Hirata - Sirkus Pohon

Hanya umpatan dan makian yang berlalu lalang dalam kepala saya ketika dalam waktu kurang dari 12 jam saya menyelesaikan karya ke-10 Bang Andrea Hirata. Saya adalah pembaca setia novel beliau, namun baru kali ini saya merasa perlu dan terpanggil untuk menuliskan review karyanya.
Seburuk itukah buku ini?
Kalau kamu adalah nyinyiers Bang Andrea, sebagus apapun karya Doctor Honoris Causa bidang sastra dari University of Warwick, United Kingdom ini pasti akan kamu nilai sebagai sampah.
Bagi saya, karya ini adalah bukti sahih kejeniusan paripurna dari sang maestro kata, Andrea Hirata.
Pernah menonton film Now You See Me ? Semua reviewer film berpendapat jika twist dalam film itu membuat banyak penonton terperangah. Termasuk saya yang gemes dan mendadak bengong saking amaze-nya saat tahu bagaimana endingnya. Tetapi in the end, saya menjadi maklum karena itu garapan penulis dan sineas asing. Wajar lah ya..
Nah, kenapa Sirkus Pohon bagi saya karya yang jenius? Karena kejutannya lebih WOW daripada NYSM !
Oke, mari kita bahas.
Bang Andrea adalah sastrawan melayu yang begitu mencintai kebudayaan aslinya di Belitong sana. Hal ini tak usah kita perdebatkan lagi. Pun dengan karya ke 10 nya ini. Kearifan lokal tentang Belitong menjadi warna yang sangat kental. Apapun sukumu dan bahasamu, ketika menyelami dunia sirkus pohon, mendadak kamu akan terlahir kembali sebagai orang melayu yang fasih memakai bahasa mereka. Seolah-olah kamu sedang ada di tengah mereka. Di tengah warung Kupi Kuli di Pasar Dalam, Tanjung Lantai. Akrab dengan nama-nama seperti Suruhudin, Debuludin, Taripol, Soridin Kebul, Jamot, dan lainnya.
Belum lagi kosa kata seperti “Boi”  dan “Ojeh” yang akan membuatmu tak tahan untuk langsung mempraktekan kata itu dalam kehidupan keseharianmu. Sekali lagi, apapun sukumu. Dari sisi ini, Bang Andrea sukses membuat Melayu Indonesia naik kelas!
Bang Andrea dalam novel ini juga membuktikan diri sebagai penuls dengan riset yang mendalam. Dia memahami betul sosiologi masyarakat Indonesia yang suka tahayul, mudah tertipu pencitraan, dan memiliki ego tinggi.
Sekarang beranjak dari sisi teknik menulis.
Bang Andrea adalah tipikal penulis yang memiliki sentuhan magis dalam tiap kalimatnya. Bayangkan, dua kutilang pacaran di atas pohon bisa dia tuliskan berlembar-lembar tanpa membuat pembacanya BOSAN! Ada sisi roman, ada sisi komedi, dan penuturannya yang detail selalu sukses membuat pembaca melompat ke dunia lain. Ke dunia yang diciptakan Bang Andrea dalam bukunya. Tunggu sampai kamu belajar menulis novel, teknik seperti ini adalah teknik tingkat dewa yang butuh ribuan jam terbang untuk menguasainya.
Dari sisi cerita.
Sirkus Pohon adalah novel yang menjelma menjadi potret kondisi ramai bangsa ini. Secara gamblang sindirannya terhadap kondisi perpolitikan negeri ini diungkapnya. Namun dengan eksekusi yang sangat membumi. Pemilihan kepala desa!
Sirkus Pohon juga menjelma menjadi roman yang tak kalah kelasnya dari Romeo and Juliet atau Twilight. Tentang kesabaran menunggu dalam cinta, tentang kesetiaan, tentang penerimaan cinta yang tidak memandang rupa, harta, maupun tahta. Tentunya hal itu akan menjadi picisan jika yang menulis bukan seorang Andrea Hirata. Bang Andrea berhasil meramu semua romantisme itu dalam sentuhan penuh komedi khas melayu di satu sisi dan sentuhan “BAPER TINGKAT DEWA” di sisi lainnya. Boi, sungguh ini kombinasi yang ajaib!
Berbeda dengan tetralogi laskar pelangi, yang mengusung tema besar tentang impian dan kerja keras, Sirkus Pohon tidak berhenti sampai situ. Walaupun Bang Andrea tetap konsisten mengusung dua tema itu, Sirkus Pohon menambahkannya dengan suatu intrik dan twist yang takkan kamu temui di karya sebelumnya. Inilah poin paling istimewa dalam buku ini.
Bisa jadi nanti kamu akan mengidolakan karakter “Hob” dalam buku ini yang memiliki ketulusan cinta tiada tara. Atapun karakter Tara dan Tegar, dua insan yang memiliki definisi setia tak bebilang masa. Namun, tokoh idola saya di Sirkus Pohon adalah Taripol. Seorang begundal, maling, yang culas namun sutradara belakang layar yang tak terduga.
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menulis review ini, sebab satu hal. Karena saya memikirkan kekurangan apa yang bisa saya temukan dan saya tulis. Tidak fair rasanya jika sebuah review penuh berisi pujian tanpa kritik.
Well, kritik saya sederhana saja. Bang Andrea seharusnya mengeluarkan karya seperti ini minimal setahun sekali! Indonesia butuh asupan gizi dari literasi kelas dunia macam ini lebih banyak lagi.
Baiklah, Kawan, jangan percaya apa yang saya tulis sampai kamu memasuki sendiri dunia Sirkus Pohon. Alami, dan rasakan sendiri.
Ojeh?